Jumat, 06 September 2013
Teknik Dasar Bola Voli
BOLA VOLI
SEJARAH BOLA VOLI
Senin, 15 Agustus 2011
Bola voli
Senin, 18 Oktober 2010
Teknik Pukulan Backhand Dalam Tenis
Backhand, Pukulan dasar kedua dalam bermain tenis. Backhand adalah pukulan yang diayun dari seberang badan menuju depan atau menggunakan bagian belakang dari raket untuk memukul bola dan telapak tangan anda membelakangi bola.
Saat ini terdapat dua jenis pukulan backhand yang populer digunakan, yaitu: backhand menggunakan satu tangan dan backhand menggunakan dua tangan. Masing-masing pukulan memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, saat ini pukulan backhand dua tangan lebih banyak dipakai oleh pemain pro karena efektivitasnya. Saya akan coba membahas kedua teknik pukulan ini satu per satu.
1. Backhand satu tangan
Terdapat beberapa keuntungan dalam memakai backhand satu tangan. Pertama, anda memperoleh keuntungan dari jangkauannya yang panjang sehingga bola-bola yang melebar dapat ditangani dengan lebih mudah. Kedua, lebih mudah untuk melakukan voli dari grip satu tangan dan umumnya pemain yang memiliki backhand satu tangan lebih jago dalam memukul voli daripada pemain yang memiliki backhand dua tangan. Terdapat 2 jenis grip yang dapat anda pakai dalam melakukan backhand dua tangan, yaitu eastern dan full-eastern (western) grip.
2. Backhand dua tangan
Backhand ini merupakan yang paling populer digunakan oleh pemain tenis saat ini. Keuntungan dari grip ini adalah ayunannya yang efisien dan tenaga ekstra yang dihasilkannya karena menggunakan dua tangan. Namun, kekurangannya terutama dalam menghadapi bola-bola yang melebar dikarenakan tumpuan ayunan yang menggunakan 2 bahu. Grip yang dipakai dalam melakukan pukulan ini adalah tangan kanan berada pada ujung gagang raket dengan grip continental dan tangan kiri berada di atasnya dengan grip semi-western
Sumber - teniskita.multiply.com
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis
Senin, 11 Oktober 2010
Legenda Klub Basket Di Indonesia
Di Jakarta, orang pasti masih ingat klub basket Waringin Kencana. Dalam kurun 1970 dan 1980-an, klub ini bahkan sempat disebut the dream team. Atau setidaknya, predikat itu pantas mereka sandang lewat kiprah mereka yang selama 10 tahun nyaris tak punya lawan sepadan di Indonesia. Meski sudah almarhum, namun namanya tetap harum.
Di klub itu, lahir dan besar bintang-bintan yang pantas disebut pemain legendaries Indonesia seperti Henry Pribadi, Sonny Hendrawan, Gatot Sugiarto. Belakangan, hadir pula pemain-pemain sekaliber Ali Susanto, Fery Chandra (Medan), Indarto dan Anton Sugiarto (Surabaya).Selama kiprahnya di percaturan bola basket nasional, kebesaran Waringin kemudian menjadi acuan tim-tim lain. Buktinya, mereka acap kali jadi rebutan klub-klub daerah untuk beruji coba.
Mereka, antara lain, ingin menjajal kehebatan Sonny Hendrawan, Pemain Terbaik Asia 1967. Pebasket yang sebelumnya bernama Liem Sien Siong ini juga top skorer Kejuaraan Asia IV yang berlangsung di Seoul, Korea itu. Saat itu, di bawah ring, center Ali Susanto dan Gatot Sugiarto siap memblok tembakan lawan. Ferry Chandra, Indarto, dan Henri Pribadi bertindak sebagai pencetak angka lewat penetrasi-penetrasi mematikan ke daerah pertahanan lawan.
Saking banyaknya bintang, joni Prananto salah satu pendiri Waringin memilih jadi pelatih.
Tapi, karena manajemennya digarap bersama-sama. Konflik internal pun kemudian muncul. Tambahan, para pemain sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Maka, pada 1980 Waringin akhirnya membubarkan diri. Meski begitu, sinar Waringin tak pernah redup hingga kini. Harumnya nama Henry Pribadi, Sonny Hendrawan, Gatot Sugiarto dan lainnya tetap mewangi di seantero bola basket nasional. Buktinya, pada 1996 mereka kembali bergabung dengan bendera baru: Garuda Emas. Mereka tampil di berbagai turnamen veteran dunia
Sumber - coachsuryo.blogspot.com
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis
Pembinaan Tenis Meja Di Indonesia Sangat Minim
Jumlah klub tenis meja di Kota Solo dinilai sangat minim, terutama klub yang fokus pada pembinaan atlet usia dini. Dari sembilan Perkumpulan Tenis Meja (PTM) yang ada di Kota Bengawan, tercatat tidak sampai separuhnya yang menyasar pada pembinaan sektor yunior. "Paling banyak hanya dua klub yang ada pembinaan atlet usia dininya. Seperti PTM PMS (Perkumpulan Masyarakat Surakarta) dan PTM Mitra Medika," kata Sekretaris Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Surakarta Darto di Sekretariat KONI, Jumat (13/8).
Selain keduanya, sebut Darto, masih ada tujuh klub tenis meja lainnya. Seperti Aji Soko (Sondakan, Laweyan), RRI (Banjarsari), Sapto Manunggal, Satriya (Kleco, Laweyan), Karisma (Karangasem, Laweyan)m dan Fuqing. "Sayangnya ketujuh klub tersebut hanya diisi penggemar tenis meja, itu pun yang sudah berusia dewasa dan juga bukan atlet," jelas pria yang di PTM Mitra Medika menjabat sebagai Ketua ini.
Diakui Darto, karena sedikitnya jumlah klub yang membina atlet usia dini, maka tidak mengherankan kalau Solo sangat sedikit memunculkan pemain-pemain yunior serta jarang pula mengirimkan atlet muda di kejuaraan-kejuaran tenis meja. "Kalau pun mengirimkan wakil, ya atletnya hanya berasal dari PMS dan Mitra Medika saja. Itu pun tidak banyak," jelasnya.
Meski jumlah klub tenis meja yang fokus menggarap pembinaan usia muda sangat minim, lanjut Darto, PTMSI Surakarta sangat terbantu dengan adanya klub Dwi Bengawan yang lokasinya di Cemani, Sukoharjo. Pasalnya, tidak sedikit pemain pemain usia dini Kota Solo yang berlatih di klub tenis meja tersebut. "Secara geografis memang letaknya di perbatasan Solo-Sukoharjo. Tapi di klub ini ternyata juga membuka kelas pembinaan usia dini. Jadi kami sedikit terbantu juga," paparnya.
Sumber - suaramerdeka.com
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis
Membentuk Club Futsal Sejak Sekolah Dasar
Futsal merupakan olahraga yang sedang tren dan banyak digemari saat ini. Karena itu, SDN 1 Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan berinisiatif membuat club futsal untuk anak didiknya.
Menyusul keberhasilan Setya Kurniawan, salah satu guru kelas V di sekolah tersebut membawa murid-muridnya meraih juara pertama dalam lomba futsal tingkat kecamatan. "Futsal itu olahraga yang sangat digemari anak-anak SD. Makanya kami berinisiatif membentuk club futsal di sekolah. Untuk olahraga para siswa," katanya.
Ini dilakukan untuk mengarahkan kemampuan atau skill siswa sejak dini. Setya lantas mencontohkan olahraga sepak bola di Indonesia yang hampir tidak pernah mempunyai prestasi di tingkat dunia.
Hal itu disebabkan karena, sejak kecil generasi penerusnya tidak diarahkan pada skill khusus. Bahkan, sejak kecil tidak disiapkan untuk memiliki skill khusus. "Misalnya, kalau sejak SD dididik pada olahraga tertentu, seperti sepak bola atau futsal, saya yakin, besarnya akan menjadi bintang. Yang penting serius, pasti berhasil," terang lelaki yang saat ini aktif di KNPI Kabupaten Probolinggo ini.Setya sendiri dikenal serius melatih dan mengarahkan murid-muridnya dalam bidang olah raga. Tidak heran, anak didiknya selalu meraih juara dalam beberapa lomba di tingkat kecamatan, bahkan kabupaten.
Futsal sendiri di SDN 1 Kalibuntu sudah dirintis sejak awal 2008. "Mulai kelas 3 sampai kelas 6, saya yang menjadi pelatih mereka. Tunggu hasilnya kalau ada perlombaan nanti. Setidaknya, ide ini bisa diterapkan di beberapa sekolah. Tujuannya agar siswa SD punya olahraga yang digemarinya. Tubuh bisa sehat dan pikiran akan cerah," tegas lelaki yang sudah mengajar di SDN 1 Kalibuntu sejak 2004 itu. (rb)
Sumber - probolinggokab.go.id
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis
Club Badminton Tersukses Di Indonesia
Setumpuk pemain yang sempat memenangi All England pernah berlatih di sini. Juga sederet pahlawan Piala Thomas dan Uber. PB Djarum Kudus, inilah 'pabrik' pebulutangkis papan atas Indonesia.
Sebut saja nama Liem Swie King, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Ivana Lie, Fung Permadi dan Chistian Hadinata. Sekarang muncul pula nama Maria Kristin dan Fran Kurniawan yang saat ini masih bermukim di pelatnas.Sulit rasanya mencari tandingan prestasi dari nama-nama di atas. Dan kehebatan mereka semua berawal dari Kudus, di sebuah club badminton bernama PB Djarum.
PB Djarum berawal dari kegiatan pekerja pabrik rokok Djarum yang kerap bermain olahraga tepok bulu itu. Tak swperti sekarang yang berdiri megah, permainan bulutangkis di tempat itu digelar seadanya karena lapangan yang digunakan adalah tempat pelintingan rokok.Tapi justru dari situlah kejayaan bulutangkis Indonesia berawal. Diawali kemunculan Liem Swie King, PB Djarum kemudian menjelma menjadi tempat pembibitan pemain papan atas Indonesia dan bahkan dunia.
Kini, beberapa dasawarya berlalu, PB Djarum semakin menegaskan komitmennya pada dunia perbulutangkisan Indonesia.Tak ada lag tempat berlatih yang seadanya. Yang bisa disaksikan kini adalah sebuah komplek bangunan dengan luar mencapai 29.000 m2 lengkap dengan fasilitas kelas satu.
Terdapat asrama, yang terpisah putra dan putri, dengan fasilitas ekstra modern. Untuk keperluan lapangan, total ada 16 lapangan yang bisa digunakan, cantumkan juga sarana pendukung lain semacam perpustakaan, kantin dan ruang fisioterapis."Kami ingin meneruskan sejarah itu dan menelurkan pada pemain-pemain muda agar seperti senior mereka yang telah berjuang mengharumkan nama bangsa," terang Ketua Umum Persatuan Olahraga (POR) Djarum, FX Supanji.
Jadi, siapa juara terbaru yang akan muncul dari Kudus?
Sumber - forumkami.com
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis
Minggu, 10 Oktober 2010
PSSI Harus Mau Di Intervensi
Anggota Komisi X DPR RI, Dedi Gumelar, berharap KONI memiliki keberanian politik untuk melakukan intervensi kepada PSSI, sehingga bisa mengubah sistem dalam seluruh proses pembinaan olahraga tersebut di Indonesia. Meskipun PSSI adalah organisasi mandiri dan intervensi oleh negara terhadap organisasi tersebut melanggar aturan FIFA, tetapi itu akan lebih baik untuk perkembangan olahraga sepak bola Indonesia di masa yang akan datang.
Saat ini, Indonesia masih sulit untuk bisa mendominasi pertandingan internasional, misalnya di SEA Games, atau Asian Games. Selama ini, sistem pembinaan yang dilakukan salah. Kompetisi dilakukan hanya untuk pertandingan saja. Pembinaan harus dilakukan sejak dini, bukan menggabung-gabungkan pemain dari satu klub dengan klub bola lain. pembinaan sejak dini tersebut sangat diperlukan, karena di Indonesia sepak bola belum menjadi sebuah budaya tetapi baru sebatas olahraga hiburan.
Pembinaan sejak dini tersebut, juga sekaligus menjadi penolakan terhadap rencana naturalisasi pemain asing ke dalam tim nasional sepak bola Indonesia, meskipun pemain asing tersebut dikatakan memiliki darah Indonesia.Harusnya bangsa Indonesia malu dengan rencana naturalisasi itu. Penduduk di Indonesia sangat banyak, sehingga pasti ada banyak pemain yang bisa direkrut untuk menjadi pemain sepak bola di masa depan.
Naturalisasi, lanjut dia, juga belum memberikan jaminan tentang perbaikan sepak bola di Indonesia, di samping jaminan menyangkut rasa nasionalisme pemain-pemain hasil naturalisasi tersebut. Karena Naturalisasi bukanlah solusi jangka panjang
Sumber - kompas
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis
Bola Kaki Buatan Anak SMP Laku Keras
Bola hasil industi kerajinan di Tanah Air lebih sering merambah dunia internasional ketimbang prestasi tim sepakbola nasional kita. Hasil kerajinan tangan anak-anak di negeri ini digunakan di sejumlah event pertandingan sepakbola internasional. Salah satu sentra pembuatan bola itu berada di Sukabumi, Jawa Barat.
Menurut Mamat, salah satu pengusaha pembuatan bola, Kampung Lembursawah sudah dikenal sebagai tempat pembuatan bola sejak tahun 1960-an. Hanya saja, pada masa itu, para perajin membuat bola dari bahan kulit. Berbeda dengan perajin sekarang yang lebih banyak memakai bahan baku kain.
Usaha kerajinan membuat bola merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang warga di kampung tersebut. Jadi, jangan heran, jika keahlian membuat bola sangat dikuasai oleh setiap orang di kampung ini. Memang, perajin bola kaki di Lembursawah tak setenar perajin bola di Majalengka, Jawa Barat, yang telah memasok bola untuk ajang kejuaraan sepakbola kelas dunia.
Tapi, menurut Mamat, banyak perajin bola di Majalengka yang berasal dan menimba ilmu pembuatan bola dari Lembursawah. Dia berkisah, pada tahun 1960-an, hanya ada sekitar lima pengusaha bola di kampungnya. Seiring berjalannya waktu, jumlahnya terus bertambah. "Saat ini sudah ada sekitar 20 pengusaha bola. Semuanya penduduk asli kampung Lembursawah," kata Mamat. Dia bilang, jumlah pengusaha bola tidak sebanyak jumlah perajinnya. Mamat sendiri, yang telah menggeluti usaha pembuatan bola sejak tahun 1998, memiliki 15 karyawan tetap yang bekerja di rumahnya. Selain itu, ada 100 perajin lagi yang menjahit bola di rumah mereka masing-masing dan memasok jahitan bola untuk Mamat.
Yang membanggakan, menurut pengakuannya, pada 2005, nama kampung Lembursawah sebagai sentra industri bola semakin berkibar. Sebab, mereka mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) saat membuat bola terbesar di dunia dengan diameter sepanjang 2 meter.
Sumber - suaramedia.com
Temukan semuanya tentang Bisnis & Promosikan Usaha Anda di Iklan Gratis





